Sate Lilit

sate-lilit-800

Ketika saya pertama kali melihat sate lilit, yang pertama muncul di kepala saya adalah asal kata “lilit”-nya itu. Karena saya tidak melihat ada sesuatu yang melilit dari kuliner khas Bali yang meskipun memang seperti sate, tapi tidak seperti sate yang biasa saya lihat. Tetapi terlepas dari “kontroversi” yang berkecamuk di kepala saya, aroma dan rasa sate lilit ini memang sangat-sangat menggugah selera.

Seperti kebanyakan sate-sate di daerah lain, yang ada di benak saya yang namanya sate itu ya daging yang dipotong kecil-kecil, ditusuk kemudian dibakar. Sementara sate lilit tusukannya sangat besar, mustahil bisa menusuk sesuatu dengan potongan pelepah kelapa yang sebesar itu. Selain itu pelepah kelapa tidak sekeras bambu. Di sebuah restoran papan atas saya bahkan melihat sate lilit yang tusukannya terbuat dari batang serai yang malah lebih lunak lagi daripada potongan pelepah kelapa.

sate-lilit-hotelAkhirnya saya menemukan jawaban dari seorang penjaja sate lilit yang berjualan kaki lima di sebuah sudut kota Denpasar. Ketika saya mampir untuk membeli, dia kebetukan sedang “melilit” sate. Daging untuk sate lilit ini tidak dipotong-potong melainkan dihancurkan lalu dicampur dengan berbagai macam bumbu sehingga menjadi adonan yang lumat seperti adonan kue yang katanya disebut luluh. Adonan ini kemudian ditempelkan di potongan batang pelepah kelapa. Supaya menempel dengan sempurna, adonan ini ditempelkan sedikit demi sedikit oleh satu tangan sementara tangan yang lain memegang potongan pelepah batang kelapa sambil memutarnya perlahan-lahan, sehingga memberikan kesan seolah-olah adonan tersebut dililitkan di potongan pelepah kelapa yang berfungsi sebagai tusuk satenya.

Pada umumnya sate lilit berbahan dasar ikan laut. Menurut logika saya, mungkin itu karena daging ikan lebih mudah untuk dilumatkan. Tetapi si pedagang mengatakan karena memang asal muasal sate lilit datangnya dari kawasan pantai. Karena dia yang orang Bali, tentu saya nggak boleh ngotot. Sampai sekarang memang kebanyakan sate lilit, terutama yang dijajakan di kaki lima atau warung-warung sederhana kebanyakan menggunakan bahan dasar ikan laut. Tapi di beberapa tempat ada juga pilihan lain seperti daging ayam atau babi. Konon bahkan ada yang berbahan daging penyu … entah benar atau tidak karena daging penyu sekarang dilarang dikonsumsi apalagi diperdagangkan.

Sate lilit ini merupakan salah satu jenis kuliner Bali yang cukup populer. Di kawasan Denpasar dimana banyak penduduk asli Bali bermukim, kita bisa dengan mudah menemukan pedagang sate lilit berjualan di pinggir jalan atau di kaki lima. Umumnya mereka berjualan pada sore hari. Sajian nasi campur khas Bali yang juga cukup populer juga biasanya menyertakan beberapa tusuk sate lilit. Di restoran-restoran papan atas termasuk hotel-hotel berbintang yang menawarkan menu khas Bali, biasanya sate lilit juga tidak ketinggalan.

Beberapa waktu yang lalu dalam perjalanan menuju kawasan Bali Timur melalui by-pass Ida Bagus Mantra yang membentang sepanjang pesisir timur dari Sanur di selatan Denpasar sampai Kabupaten Klungkung, saya melihat banyak warung-warung yang menyajikan hidangan sate lilit. Sejumlah warung bahkan menempel tulisan yang menyatakan bahwa mereka juga menjual luluh yang merupakan adonan sate lilit.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s